Showing posts with label Cerita Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Cerita Keluarga. Show all posts

Saturday, 2 August 2014

Harapan di Tengah Senja

Jantungku diterpa suasana DAG DIG DUG. Sebentar lagi sejarah baru akan ku ukir. Aku akan jadi seorang novelis. Sudah setahun ini konsentrasiku kucurahkan untuk menulis novel. Novelku yang berjudul “Harapan di Tengah Senja” ku ikut sertakan dalam Sayembara penulisan novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kota.

Hari yang kutunggu-tunggupun tiba. Malam puncak sayembara penulisan novel. Aku sangat antusias. Aku yakin benar kalau novel yang ku tulis dengan apik ini akan menjadi salah satu pemenang. Bagi tujuh novel yang terpilih dalam sayembara ini maka novelnya akan di terbitkan.

Malam puncak sayembara novel banyak di hadiri sastrawan terkenal, tokoh-tokoh dunia seni dan juga pejabat pemerintah. Aku duduk di barisan belakang. Pengumuman pun tiba.               

“Inilah malam penganugerahan sayembara dewan kesenian kota. Adapun pemenang-pemenang yang siap menjadi sastrawan sekaligus novelis novelis muda adalah sebagai berikut”

Aku harus cemas, jantungku memompa darah semakin cepat hingga jantungku berdetak kencang aku merasakan kekhawatiran yang sangat. Masih tak terbayang untukku kalau beberapa detik lagi aku akan menyandang titel novelis dan sastrawan. Pasti jadi sesuatu yang membanggakan.

“Novel terbaik untuk posisi ketujuh yaitu Ayat-Ayat Kesedihan karya Indrawan Wibowo, posisi ke 6 Pemimpi-Pemimpi Siang Bolong karya Andrianus Sinaga, posisi ke 5 Nova Bilang Cinta karya Dewi Rahmawati”

Aku, Dia, dan Angkutan Kota

Sore saat langit mulai gelap karna akan ditinggal mentari pergi, aku selesai belajar di sekolah. Maka seperti anak-anak lain aku pun melangkah cepat untuk bergegas pulang. Maklum saja untuk sampai ke rumah aku harus menunggu angkutan kota. Saat sore seperti ini akan lama sekali untukku bisa mendapatkan angkot. Selain karna sore hari selalu penuh penumpang karna memang jam pulang beraktivitas. Angkot yang menuju rumahku sangat minim jumlahnya. 
Sekolahku berada di depan jalan raya. Jauh ke seberang sekitar 10 meter dari sekolahku, ada sebuah jembatan. Disitulah aku bersama teman-teman lain yang searah menunggu angkot. Sekitar 10 meter dari jembatan terdapat sebuah masjid. Masjid itulah yang menolong kami saat adzan berkumandang. Waktu terus berlalu, matahari juga mulai bergerak turun. Sesekali aku melihat jam di tanganku yang terus berputar cepat seperti berlomba. Aku masih juga belum mendapatkan angkot.

“Nis..” Sapa seseorang
“Kak Fandi” sahutku
“Bareng Yuk!” ajak Kak Fandi
“Nggak Kak. Makasih”
“Oh Ya sudah, aku duluan ya” timpal Kak Fandi selanjutnya

ABANG

Lagi lagi Bang Roshan, tak bosan dia membuat salah satu diantara kami menangis. Kemarin lusa Ane, kemarin Dian, dan sekarang Ina dan entah besok siapa lagi. ABang, begitu kami semua memanggilnya. Aku, Ina, Ane, Rima, Eka, dan Dian mengangkatnya sebagai kakak bersama. Hal ini bukan kebetulan memang tapi ada beberapa penyebab yang membuat semua harus seperti itu. Sebetulnya Bang Rhosan adalah teman sekelas kami. Namun karena usianya lebih tua dari kami maka dari itu kami memanggilnya ABang.
Ina adalah sosok yang paling pendiam diantara kami semua, namun Ina memiliki sensitivitas, untuk itu perasaanya mudah sekali terluka.
                “Kenapa In, di bentak lagi?” Tanyaku
Ina terus menitikan airmata, aku usap pundaknya dan seketika ia berhambur ke pelukanku. Selang berapa lama Ane, Eka, Rima, dan Dian menghampiri kami yang tengah ada di Bundaran taman kampus.
                “Bang Roshan lagi ya Ren” celetuk Rima
                 Aku hanya tersenyum lirih mengiyakan.
                 “Kenapa sih selalu orang itu yang menimbulkan masalah?” sahut eka ketus
                 “Heii, tidak boleh begitu. Bagaimanapun dia adalah ABang kita”. Kataku mengimBangi
                 “ABang macam apa yang selalu membuat adenya menangis? Sambung Eka
                 “Iya aku setuju tuh. Lagian menurut silsilah dia itu bukan ABang beneran kita kali” sahut Rima menimpali.

                 “Iya bisanya menasehati, seperti dia paling benar diantara kita, dan kita selalu salah”. Tutur Ane menambahkan.
                 “Iya aku juga masih sebel sama dia, masa aku gak boleh sedih karna pacarku gak ingat ulang tahunku, masa dia bilang itu masalah sepele. Bukan menghibur malah membuat perasaanku semakin sakit dan kecewa “Sahut Dian.
                 “Apalagi sama aku dia lebih parah. Masa dia melarang aku pergi ke puncak malam-malam, padahal terserah aku dong mau main kemana dan sama siapa. Mamaku aja gak pernah melarang-larang aku kok”. Tambah Rima
                 “Udah In gak usah sedih. Ada kita disini”. Sahut Eka.
                 “Sekarang udah aja, gak ada istilah ABang untuk Roshan. Lagian apa untungnya coba buat kita. Gak ada kan?. Tanpa dia juga kita biasa-biasa saja gak ada pengaruh apa apa. Kita tetap bisa menjaga diri” Tutur Ane
                “Ya aku setuju Ne, sudah waktunya kita semua bebas dari yang namanya Roshan itu”. Timpal Rima.
                 “Kok kalian bisa bicara seperti itu”. Kataku pendek.
                “Ren, apa untungnya sih kita angkat dia sebagai ABang kita. Cuma bikin repot aja kan. Hanya bikin masalah-masalah baru”. Balas Ane.
                 Lalu seketika semua teman-teman menyetujui. Ini seperti sebuah deklarasi. Namun aku masih sedikit bingung. Aku tidak begitu yakin ini adalah keputusan yang baik. Tapi ya sudah aku hanya bisa mengiyakan dan mengikuti apa yang diinginkan teman-teman.

                                                                                            ***

                 Sehari setelah deklarasi itu, Semua berubah 180 derajat. Kami yang biasanya menyalami Roshan saat masuk kelas kini tidak lagi. Teman-teman sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan Roshan. Roshan mungkin tidak menyadari perubahan teman-teman. Mungkin Roshan pikir kami hanya marah biasa saja kepada dia seperti yang biasa kami lakukan kemarin-kemarin. Padahal kali ini semua berbeda. Ini adalah akhir.
                 Lama lama Roshan menyadari sebuah keganjilan. Akhirnya dia berusaha mencari-cari dan berupaya untuk mendekati kami. Namun gagal. Dia sudah berusaha mendekati kami dengan mengajak nonton bareng, belajar bersama, sampai makan bareng. Namun sayang hal itu tidak bisa mematahkan keyakinan kami untuk memutuskan hubungan dengan Roshan.
                 Sampai akhirnya ketika di Kantin kami sedang makan dia menghampiri kami. Dengan gaya sok akrabnya dia menghampiri kami.
                 “Hei.. makan kok gak ngajak-ngajak”. Cetus Roshan.
                 Tak ada teman-teman yang menanggapi. Tapi dia tidak berputus asa. Dia coba mengganggu kami dengan ikut memakan makanan yang sedang dimakan oleh Eka. Kontan Eka marah. Ia melempar makanannya ke arah Roshan. Kami semua tersentak. Begitupun Roshan ia begitu kaget. Sepertinya ia tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti itu. Kemeja Roshan kotor terkena tumpahan makanan yang dilempar oleh Eka.
                 “Kalian kenapa? Aku punya salah apa?”
                   Begitulah Roshan selalu merasa tidak mempunyai salah. Padahal bila dihitung-hitung kesalahannya sudah lebih dari seratus daftar.
                 Eka berdiri dan bergegas ke kasir untuk membayar makanan. Kami juga turut berdiri dan meninggalkan Roshan di meja makan. Roshan hanya bisa menatap kami dengan tatapan sendu. Terus terang saja aku tidak sampai hati berbuat seperti ini.

                                                                                            ***

                 Setelah kejadian di kantin itu. Roshan sudah mengerti apa yang kami inginkan. Untuk itu dia tidak pernah mengganggu kami lagi. Tidak pernah menyapa kami di kelas, tidak pernah mengajak makan bersama di kantin apalagi mengajak nonton bareng. Komunikasi kami mati total. Semua teman-teman senang dengan hal ini. Mereka seperti sudah mendapatkan kebebasan yang selama ini mereka mimpikan.
                Kini tak ada lagi yang menangis. Kami semua sudah menemukan kebebasan. Ane tak lagi kesal karena selalu mendapat nasihat, Dian tak lagi sakit hati karena masalah cintanya dianggap sepele, dan Rima bebas mau kemana saja dan dengan siapa saja tanpa ada yang melarang. Begitupun Ina, Eka, dan juga aku merasakan hal yang sama yaitu sebuah kebebasan.
                Akhir pekan ini kami harus menyelesaikan proposal program. Proposal ini dibuat untuk mengajukan kerjasama pada sebuah perusahaan. Kami akan mengadakan studi praktek ke sebuah prusahaan. Namun kami kebingungan. Selain tidak ada laptop yang bisa digunakan. Teman-teman ternyata memiliki acara masing-masing.
                “Ya udah Eka, kamu boleh pulang. Tapi kita pinjem laptopnya ya untuk ngerjain proposal ini” sahutku.
                “Ih gak bisa Ren. Aku mau ngerjain tugas”. Balas Eka
                “Trus gimana dong, laptop punya Ina rusak. Banyak virusnya. Laptopku kan batrenya dah soak” kataku lagi
                “Ya sudah sih. Kalian ngerjainnya di warnet aja”
                “Ya kan kalau di warnet kita harus bayar. Kalau ngetiknya di laptop kan nanti di warnet tinggal ngeprint aja jadi lebih murah”
                “Mmhh..  coba disini ada Bang Roshan ya. Jadi ada yang bantuin kita” kataku spontan.
                “Plis deh Ren. Jangan sebut-sebut lagi nama itu”. Sentak Eka.
                “Iya ni Rena. Kita kan sudah sepakat untuk menghapus nama itu dari hidup kita”. Timpal Ane.
                Lalu suasana menjadi hening, aku, Ina, Ane bingung mencari solusi. Eka seperti sedang kesal dengan sesutu, mungkin kesal karna aku menyebut nama Roshan. Sementara Dian dan Rima asyik ber-SMS-an dengan pacarnya masing masing.
                “Eh teman-teman aku pulang duluan ya. Pacarku dah di depan lagian rumahku kan jauh. Jadi maaf ya gak bisa bantu kalian”. Cetus Dian.
                “Aku juga ya, aku ada acara sama teman-temanku di puncak. Maaf ya gak bisa bantu juga”. Sahut Rima menimpali.
                Dian dan Rima pun beranjak. Padahal kami belum mengiyakan. Disusul dengan Eka yang pergi meninggalkan kami dengan wajah ketus. Sepertinya dia tengah memiliki masalah.
                Ya sudah akhirnya mau tidak mau kami mengerjakan pekerjaan ini di warnet. Mungkin akan menguras banyak biaya. Tapi ya sudahlah tidak ada jalan lain.

                                                                                            ***
                Malam tiba, sekitar pukul 9 malam. Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat dari nomor Rima masuk ke ponselku. Lalu aku membuka pesan singkat tersebut.
               “Teman-teman tolongin aku, aku lagi di kantor Polisi sekarang”
                Aku pun segera menelpon Rima untuk mengetahui secara detil bagaimana ia berada di kantor polisi. Pada menit-menit berikutnya aku menghubungi teman-teman yang lain untuk bersama-sama menemui Rima di kantor Polisi. Rupanya Rima terkena razia saat dilakukan sidak disebuah vila di kawasan Puncak Bogor. Memang akhir-akhir ini sedang dilakukan razia besar-besaran bagi pengguna narkoba. Meskipun begitu aku yakin Rima tidak mungkin menggunakan Narkoba.
                Aku dan teman-teman yang lain kemudian berangkat ke kantor polisi untuk menyusul Rima. Kasihan dia. Dia sendirian disana. Sementara teman yang membawanya ke Puncak kabur saat penggeledahan. Tak berapa lama kami sampai di kantor polisi.
                Sesampai di kantor polisi kami mendapati Rima tengah menangis di sebuah Bangku yang terletak di depan pintu kantor polisi. Kami lalu mendekati dan memeluknya erat-erat. Dia menangis tak kuasa. Kami merasakan kesedihan yang mendalam.
                “Ayo Rim, kita pulang” kataku
                “Tunggu sebentar, aku sedang menunggu seseorang di dalam”
                “Siapa Rim”
                “Dia yang menolongku”
Lalu sesosok pria yang tak asing keluar dari pintu. Ia berjalan pelan. Sempat menengok ke arah kami sejenak lalu meneruskan langkahnya.
                “Bang......” cetus kami sepontan.
Lalu sosok pria yang tak lain adalah Bang Roshan itu membalikkan badan dan menatap ke arah kami.
                “Kalian cepat pulang, malam sudah larut” Sahut Bang Roshan.
                Bang Roshan kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkah kakinya.
                Malam ini Bang Roshan sudah membuka mata kami semua tentang arti keluarga. Memang tak ada ikatan darah. Tapi ikatan batin kami kuat. Entah bagimana, Bang Roshan malam ini sudah menyelamatkan Rima, setidaknya Rima bisa pulang karena Bang Roshan sudah menjadikan dirinya sebagai jaminan. Ternyata selama ini Bang Roshan tidak menutup matanya. Hanya kami yang pura-pura buta soal ini.

                                                                                                ***

                   Hari-hari berikutnya kami menyadari dengan sangat soal kekeliruan ini. Setelah kejadian malam itu ternyata Bang Roshan tidak serta merta bersikap akrab terhadap kami. Ia masih mendiamkan kami. Tak menyapa, mengajak makan bersama di kantin, atau belajar bareng. Mungkin Bang Roshan masih memegang kata-kata kami. Kata-kata kami yang tidak ingin lagi diganggu oleh kehadirannya.
                    Soal ini kami harus berusaha. Bagaimanapun kami menyadari apa yang selama ini kami lakukan itu adalah kekeliruan. Penilaian kami soal daftar kesalahan Bang Roshan tidak kami imBangi dengan kebaikan yang pernah dibuatnya. Maka kami menyusun sebuah rencana untuk membuka komunikasi kembali dengan Bang Roshan. Beruntung, kami dibantu oleh Johan dan Dedi. Johan dan Dedi adalah sahabat baik Bang Roshan. Dengan memanfaatkan kelemahan Bang Roshan (pelupa Red) kami menyusun apik rencana ini.
                     Suatu siang di kantin kampus kala Bang Roshan tengah makan siang, kami semua menghampiri meja tempat Bang Roshan makan. Bang Roshan tengah melahap empe empe kegemarannya. Kami lalu duduk tanpa sepatah kata. Bang Roshan menatap kami dengan segumpal empe empe yang masih dikunyah dimulutnya. Ia lalu mengangkat tasnya dan membawa makanannya ke meja yang lain. Kami semua tidak mencegahnya untuk pindah tempat. Beberapa menit kemudian Bang Roshan tampak selesai makan. Ia membereskan tasnya dan meraba kantong celananya untuk mengambil dompet. Ada sesuatu hal yang ganjil karena ternyata dompet Bang Roshan tidak ada di saku celananya. Ia mulai mencari-cari di semua titik baju dan celananya namun dompetnya masih tidak ditemukan. Begitupun di dalam tasnya, ia mencari-cari tapi tidak menemukan. Ia mulai panik, ia membayangkan akan mendapat bom suara dari pemilik kantin yang terkenal galak itu. Kamu semua hanya tersenyum-senyum kecil menahan tawa.
                       Lalu perlahan ia menengok ke arah kami dengan wajah memerah. Kami pura-pura tidak melihatnya. Ia tampak ragu-ragu namun akhirnya Bang Roshan melangkah pelan-pelan, melangkah ke arah meja kami.
                      “Mmhh... dompetku hilang, ponselku juga hilang. Ren aku bisa pinjam uang dulu tidak buat bayar makan, nanti besok aku ganti” Sahut Bang Roshan.
                       Aku diam saja ia pura-pura tak peduli.
                       “Na.. aku bisa pinjam uang kamu”
                       Ina juga diam saja. Sungguh kami semua tidak tega melakukan ini. Ingin rasanya tertawa lepas untuk situasi konyol ini.
                       “Ine, Eka, Dian, Rima, kalian bisa pinjamkan aku uang”
                       Kami masih diam. Lalu......
                       “Iya Abaaangggg” sahut kami semua disambung dengan tawa yang sangat lebar.
                       “Hahahahahaha” Tawa kami.
                       “kalian menertawakan apa. Memang ada yang lucu” sahut Bang Roshan
                       “Nggak. Aya ABang duduk disini. Makan lagi sama kami” cetusku
                       Bang Roshanpun duduk, lalu sesuai rekomendasi kami ia memesan kembali makanan yaitu empe empe kegemarannya. Ia memang tampak masih lapar. Lalu keluarga kami akhirnya bersatu kembali dalam tawa bahagia. Untuk yang satu ini kami harus berterima kasih pada Johan dan Dedi yang telah berhasil menyembunyikan Dompet dan Ponsel Bang Roshan. Suatu saat kami akan cerita soal kekonyolan ini sama Bang Roshan, tapi tidak dalam waktu dekat. Takut dia marah. Hihi...

Kasih Sayang Buat Ulfa..

Daun yang berwarna terang oleh sinar matahari menemani kesendirianku. Beginilah aku selalu merasa sendiri bersama suara-suara yang bergemuruh ditengah gelombang udara. Aku selalu sendiri ditengah muram yang selalu menghiasi bagian-bagian mukaku. Aku adalah makhluk planet seperti pluto yang pernah ada dulu.

Sebenarnya akuini siapa? Mengapa tak ada orang yang menganggap kepedihanku. Aku seperti angka nol, aku seperti kosong tak terlihat oleh siapa-siapa. Oleh mama, oleh papa, oleh kakak, oleh sahabat, aku tak terlihat oleh siapa-siapa. HAHHHH... Apa benar aku tak berarti dan tak berguna?. Lalu untuk apa aku lahir kedunia. Bukankah tuhan menciptakan manusia dengan kegunaannya?. Berarti aku bergunakan?. Tapi mengapa orang-orang disekitarku tak menganggapku, tak menganggap kepedihanku sehingga setiap keluh kesahku adalah gurauan belaka.

TUNGGU!!.. Sebenarnya tak separah itu kok, ini hanya soal papa dan mama yang tak peduli kepadaku. Mereka hanya sibuk dengan rutinitas sehari-hari mereka. Sedang aku, aku tak lebih dari patung yang ketika mereka berlalu lalang aku diacuhkan begitu saja. Tuhan kenapa aku dilahirkan dari orang-orang yang tak peduli tentang hidupku?.

Ya sudah. Lagipula selama ini aku sudah berusaha mengambil hati untuk mendapatkan perhatian mereka. Membantu mama jika mama memasak masakan khusus buat papa. Belajar terus menerus sampai juara kelas supaya papa bangga. Meski tetap saja itu semua tak bisa memalingkan wajah mereka kehadapanku. Itu semua hanya bisa mencuri perhatian mereka beberapa menit saja.

Daun-daunpun tampak redup, matahari menggeser langkahnya kehadapan awan. Awan pun menggumpal menutup langit dan menyembunyikan matahari. Aku masih duduk saja, aku tak takut disambangi hujan karna jauh didalam jiwaku tengah ada hujan badai yang memporak-porandakan perasaanku. Sebetulnya aku tak sendirian juga. Aku punya seorang teman. Namanya Kak Shadil. Aku panggil kakak karna dia memang seperti kakakku sendiri. Aku biasanya bercerita pada Kak Shadil tentang kesedihanku. Tapi hari ini kak Shadil pasti lagi sibuk di sanggarnya. Maklum Kak Shadil mengelola sebuah Sanggar sederhana. Cita-citanya ia ingin mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anak. Salah satu caranya ya dengan mendirikan sanggar itu.

Aku sering ke sanggarnya, main bersama anak-anak. Dengan begitu bisa mengurangi sedikit kesedihanku. Tapi untuk hari ini aku tak berani kesana. Takut mengganggu persiapan mereka karna sebentar lagi mereka akan mengadakan pementasan disalah satu acara pemerintah. Lalu aku harus bagaimana?. Kira-kira kemana sebaiknya aku melangkahkan kaki.

Kak Shadil adalah pendengar cerita yang baik, ya meskipun dia selalu menyebalkan setiap kali aku cerita. Tau gak? Dia gak pernah membela aku bila aku ada masalah. Seperti sekarang, saat aku punya masalah sama papa dan mama. Kak Shadil malah belain papa dan mama. Jadi sebel kan aku, cape-cape cerita Cuma dapat nasehat. Aku cerita sama Kak Shadil soal masalah ini beberapa hari yang lalu disanggarnya. Kebetulan waktu itu Kak Shadil tidak terlalu sibuk. Jadi aku berani mengganggunya. Bila sedang istirahat kak Shadil gak diam ada saja yang dikerjakannya. Seperti saat itu, masa dia mau dengerin cerita aku sambil ngetik dikomputer. Apa dia bisa paham cerita aku.
                “Kak, tes DNA itu biayanya berapa kak?”. Celetukku membuka pembicaraan.
                “Istighfar Ulfa..”
                “Ih si Kakak, memangnya aku habis ngelakuin dosa apa?. Protesku.
                “Jangan kamu pikir kakak gak tau maksud kamu ya, Anak aneh”.
                “Hehe..”
                “Lagipula tes DNA itu besar biayanya, 7 jutaan.. kamu sanggup?.   
                “O Ow.. semahal itu kak?
                “Ya semahal itu yang jelas lebih mahal tuh dari harga kerupuk”
                “Ih biasa aja kali kak”

Kak Shadil.. Kak Shadil.. dia ngomong ma aku tapi mata ke komputer, aku disini kak. Lihat ke aku dong, gumamku dalam hati. Tak lama Kak Shadilpun berhenti mengetik. Enah karena dia kehabisan ide atau karena pegal aku tak tau. Dia kemudian membalikan badannya ke arahku.
                “Lagi pula untuk apa Ulfa, terlalu berlebihan kamu” sahut Kak Shadil
                “Abisnya, aku ragu. Aku anak papa dan mama apa bukan?, mama malah pernah bilang kaya gini. Aku kan nanya ya ke mama. Ma kok wajah aku gak mirip mama sih?. Tanya aku. Nah apa coba jawab mama. Kamu kan memang bukan anak mama Ulfa. Jadi waktu kecil mama dan papa nemu kamu di taman deket rumah, karna kasihan mama dan papa bawa kamu pulang kerumah ini deh. Hahahaha, mama ketawa deh lebar-lebar”.
                “itu mama kamu bercanda Ulfa”.
                “Nggak Kakak, justru semenjak mama cerita aku jadi percaya kalau aku memang bukan anak papa dan mama. Buktinya aku gak dianggap sama mereka”
                “Gak dianggap seperti apa sih Fa”
                “Ya gak dianggap, gak ngasih perhatian, kasih sayang, gak pernah manja-manjain”
                “Memang kamu inginnya dimanja?”.
                “Nggak juga”.

Kami diam sejenak, Kak Shadil lalu memalingkan wajah dan badannya dari hadapanku dan kembali melanjutkan ketikannya.
                “Cara orang tua mengungkapkan kasih sayangnya, itu berbeda-beda Ulfa”
                “Misalnya?”
                “Ada orang tua yang mengungkapkan rasa sayang dengan cara memberikan perhatian penuh dan memanjakannya. Ada orang tua yang mendidik anaknya dengan keras sebagai cara mereka mengungkapkan kasih sayang”.
                “Nah kalau papa dan mama aku termasuk yang mana?”
                “Ya kakak gak tau, kamu yang bisa menilainya senidiri. Kamu kan anaknya.
                “Ah jawabannya gak memuaskan, penuh dengan keragu-raguan”.
                “Fa, temukan dirimu, disitu kamu akan menemukan kebahagaiaan”

Itu saja yang selalu dikatakan kak Shadil, temukan dirimu, disitu kamu akan menemukan kebahagaiaan. Maksudnya apa coba. Memangnya diriku ini cewek apakah? Hahaha... jadi ngelantur. Huhhh.. dia memang menyebalkan.  Bukannya membela aku tapi malah membela papa dan mama. Kemana lagi aku harus mengadu.

                                                                                                          ***
Malam ini aku tak akan pulang kerumah, biar saja orang-orang serumah pada sibuk nyariin. Tapi belum tentu juga. Bisa saja mereka menganggap aku lagi ada kegiatan disekolah. Akukan sering nginep di luar karna kegiatan sekolah. Apa aku telpon saja ya. Tapi gengsi ah. Masa mau kabur dari rumah pake bilang-bilang, kan gak seru.

Malam ini aku harus kemana?, aku tak punya tempat mengadu lagi. Gimana dengan teman-teman. Hhmmm.. mereka sudah bosan dengan cerita aku yang ini ini aja. Yang ada, aku cerita mereka malah tertidur pulas.

Haduhh laper, dari sore aku belum makan. Padahal kalau di rumah kerjaan aku makan, makan dan makan. Aku ingin makan makanan yang panas panas malam ini. Tapi apa ya? Makan sop, bakso, soto atau apa ya yang enak. Hmmmm.. soal makan aja aku bingung.

Tunggu-tunggu ada yang memancing perhatian mataku. Siapa?, seseorang dengan jarak sepuluh meter dariku di dekat tong sampah. Anak gadis kecil yang polos, lusuh dan lugu kulihat tampak mencari-cari sesuatu di antara tumpukan sampah. Apa yang ia cari?. Apakah dia kehilangan sesuatu di sana. Dimana orang tuanya?. Kenapa orang tuanya membiarkan anak itu seorang diri?. Nasib anak itu hampir sama denganku, tidak dipedulikan orang tuanya. Kalau begitu aku harus membantu dia. Tapi tong sampah Ulfa. Ya kan niatnya membantu kenapa harus takut sampah?.

Akupun menghampiri bocah kecil itu. Dengan langkah pelan, aku pastikan anak kecil itu tak terusik dengan kehadiranku.
                “De, lagi apa?”. Tanyaku dengan lemah lembut.

Anak kecil itu diam saja, dia terus saja memilah-milah isi tong sampah yang ada di depannya.
                “Kamu lagi cara apa, bisa kakak bantu”. Sahutku lagi sambil memperjelas maksudku.

Kalimat ke dua aku juga tak ditanggapi anak itu. Kenapa sih aku gak pernah ditanggapin semua orang. Jadi pengen nangis deh.

Beberapa saat kemudian anak kecil perempuan itu menemukan apa yang ia cari. Sebungkus nasi bekas orang, lalu terlintas tanya dalam diriku. Untuk apa?. Aku bengong dan bingung. Anak kecil itu lalu membawa bungkusan tadi. Akupun mengikutinya. Sesampai ditempat yang sepi dia membuka bungkusan nasi itu dan...

Ya Allah.. dia memakan nasi yang dia ambil dari tong sampah itu. Nasi kotor yang orang buang dia makan dengan lahap. Seketika air mataku tumpah ruah. Iba aku melihatnya. Sepahit itukah hidup ini.

Aku menghampirinya. Ku jongkokkan badanku agar setara dengannya. Ku ambil bungkusan nasi itu dan kuikat dengan karet lalu kulempar jauh. Gadis kecil itu menatapku penuh benci. Aku seperti orang jahat yang telah merenggut anugrah dan kenikmatan dari hadapannya. Perlahan dia meneteskan airmata. Kontan saja kuambil sapu tangan dari dalam tasku dan kusapu air matanya. Kuraih tangannya dan ku ajak dia berdiri.
                “De, kakak juga lapar. Ayo kita cari makan sama-sama”.

Aku membawa gadis kecil itu ke sebuah warung tenda yang banyak berjajar di tepi jalan.
“Kamu mau pesan apa?”. Tanyaku lembut.

Anak kecil itu diam, dia seperti tak bisa berkomunikasi. Akhirnya aku pesankan ia nasi putih dengan ayam bakar sebanyak dua porsi. Akupun makan dengan menu yang sama. Anak itu makan dengan lahap. Sepertinya dia sudah berhari-hari tak bertemu makanan.

Usai makan, aku memesan kembali makanan, tapi kali ini dibungkus untuk bekal gadis kecil itu.
                “De, rumahmu dimana?. Biar nanti kakak antar pulang.”
Gadis kecil itu kembali tak menjawab.

                “Orang tua mu?”.

Gadis kecil itu menggelengkan kepala. Seperti isyarat bahwa ia tak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Ya Allah anak sekecil ini harus berlalu lalang sendiri. Seketika itu aku jadi teringat rumah. Teringat mama, teringat papa, sedang apa mereka. Akupun kembali menumpahkan airmata. Sampai aku tersadar tangan kecil gadis itu menengadah di depanku. Lalu aku mengambil uang di tasku dan memberikannya pada gadis kecil itu.

Anak kecil itu menggelengkan kepala saat ku tawarkan sehelai uang, ia lalu meraih dan mencium tanganku. Rupanya ia ingin berpamitan dan berterimakasih kepadaku. Kemudian kukepalkan uang yang kuambil tadi pada genggaman tangannya. Gadis kecil itu perlahan beranjak dari hadapanku. Sambil sesekali menengok ke arahku seperti ia tak tega meninggalkan aku yang pedih sendiri.

Ya Allah betapa berdosanya aku, betapa aku tidak mensyukuri nikmatmu. Lihat anak kecil itu. Tak berumah. Tak berorang tua. Kasihan sekali kan!. Sedang aku, aku yang cukup hidupnya, aku yang memiliki orang tua, kenapa tidak bersyukur.

Aku harus pulang, aku aku tidak boleh menyulitkan dan membebani orang tuaku. Kasihan mereka. Perjalanan selanjutnya membawa langkahku ke istana cinta tempat aku dilahirkan. Bodoh... bodohh... apa yang aku pikirklan selama ini adalah sebuah kebodohan.

                                                                                                           ***
Suasana rumahku kosong, pada kemana mereka,  oh mungkin mereka belum pulang kerja, kasihan sekali mereka harus bekerja hingga larut malam untuk memenuhi semua kebutuhanku. Aku langsung kekamar mencuci muka, tangan, kaki, shalat dan merebahkankan badanku di atas kasur.  kugelapkan kamarku agar mama dan papa tidak perlu menengok kekamarku.

Lalu suara mobil terdengar memarkir dihalaman rumah. Alhamdulillah papa dan mama pulang aku tak berharap mereka kekamarku sungguh aku ingin mereka kekamarnya saja dan beristirahat. Tpi tiba-tiba.. aku merasakan kehadiran mereka di kamarku.
                “Pa.. anak kita sudah besar ya?”.
                “Iya Ma, cantik lagi sama seperti mama dulu”.
                “Oya Pa, sudah lama ya kita tidak meluangkan waktu khusus untuk Ulfa”.
                “Mama benar, bagagaimana kalau akhir pekan ini kita jalan-jalan saja, pasti Ulfa senang”.
                “Ya sudah Mama setuju, kalau begitu kita ke kamar yuk Pa, kasihan Ulfa kalau istirahatnya kita ganggu”.

Lalu aku merasakan selimut melayang menghampiri badanku. Ya mama menyelimutiku dengan kasih sayang. Sungguh aku benar-benar beruntung memiliki papa dan mama seperti mereka. Ternyata benar setiap orang mengungkapkan kasih sayangnya dengan berbagai cara. Papa dan Mama memilih untuk memenuhi semua kebutuhan hidupku sebagai cara mereka menyayangiku. Walau untuk itu mereka harus merelakan waktunya bersamaku dengan bekerja keras siang dan malam. Walau untuk itu mereka harus rela aku tuduh kurang menyayangiku. Tapi sekarang aku lebih mengenal papa dan mama dan aku yakin mereka sangat menyayangiku. Itu yang penting.