Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Monday, 2 November 2015

Pengertian Prosa Menurut Para Ahli


Pada pos sebelumnya saya membahas tentang pengertian sastra menurut para ahli. Sastra sendiri dibagi menjadi tiga yaitu, prosa puisi, dan drama. Perbedaan prosa dan puisi sendiri terletak pada keterikatannya. Bila prosa merupakan tulisan sastra yang bebas, maka puisi adalah karya sastra yang bentuknya terikat. Kali ini saya akan membahas tentang prosa. Pengertian prosa menurut para ahli dan jenis-jenis prosa. Mudah-mudahan pembahasan tentang prosa ini bermanfaat buat teman-teman.

Berdasarkan artikel di wikipedia, prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun (dari laman https://id.wikipedia.org/wiki/Prosa).

Baca Juga : Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli
                    Pengertian Puisi Menurut Para Ahli 

Sunday, 3 August 2014

Roti Selai Keju

Seperti seorang selebritas aku mungkin bisa diibaratkan sedang berada di puncak karir. Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang, namanya Astro. Yups, dia adalah selebritis di sekolah. Atlet basket yang tinggi dan putih pastinya. Kontan saja cewek-cewek satu sekolah ngiri kepadaku karena aku dekat dengan Astro.

Mudah-mudahan kedekatan itu menandakan sesuatu, aku sudah sangat siap andaikata Astro menyatakan cintanya kepadaku. Tak ragu lagi, aku akan bilang Yess.. yess... yess. Walau lama rasanya menunggu hari itu tiba, tapi aku akan selalu bersabar. Aku yakin suatu saat Astro akan menyatakan cintanya kepadaku.

Waktu berjalan sepenggal, sekolah telah bubar, aku langsung ke tempat latihan Astro, tempatnya tak jauh di kelasku, tepat di pojok sekolah sebelah kiri kantin. Disitulah lapangan basket tempat Astro dan tim sekolah latihan. Jam segini biasanya Astro sedang istirahat latihan atau kadang baru mau mulai. Aku kesana dengan membawa sebotol softdrink kesukaannya dan kubawakan juga roti selai keju kesukaanya, pasti dia suka.

                “DUARRR..........”

Saturday, 2 August 2014

Harapan di Tengah Senja

Jantungku diterpa suasana DAG DIG DUG. Sebentar lagi sejarah baru akan ku ukir. Aku akan jadi seorang novelis. Sudah setahun ini konsentrasiku kucurahkan untuk menulis novel. Novelku yang berjudul “Harapan di Tengah Senja” ku ikut sertakan dalam Sayembara penulisan novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kota.

Hari yang kutunggu-tunggupun tiba. Malam puncak sayembara penulisan novel. Aku sangat antusias. Aku yakin benar kalau novel yang ku tulis dengan apik ini akan menjadi salah satu pemenang. Bagi tujuh novel yang terpilih dalam sayembara ini maka novelnya akan di terbitkan.

Malam puncak sayembara novel banyak di hadiri sastrawan terkenal, tokoh-tokoh dunia seni dan juga pejabat pemerintah. Aku duduk di barisan belakang. Pengumuman pun tiba.               

“Inilah malam penganugerahan sayembara dewan kesenian kota. Adapun pemenang-pemenang yang siap menjadi sastrawan sekaligus novelis novelis muda adalah sebagai berikut”

Aku harus cemas, jantungku memompa darah semakin cepat hingga jantungku berdetak kencang aku merasakan kekhawatiran yang sangat. Masih tak terbayang untukku kalau beberapa detik lagi aku akan menyandang titel novelis dan sastrawan. Pasti jadi sesuatu yang membanggakan.

“Novel terbaik untuk posisi ketujuh yaitu Ayat-Ayat Kesedihan karya Indrawan Wibowo, posisi ke 6 Pemimpi-Pemimpi Siang Bolong karya Andrianus Sinaga, posisi ke 5 Nova Bilang Cinta karya Dewi Rahmawati”

Kasih Tertinggal di Jakarta

Bahkan di jaman secanggih ini, saat jejaring sosial mampu mencari siapapun aku tak bisa juga menemukan jejaknya.  Seorang gadis berwajah oriental yang pernah ku temui di Jakarta dalam sebuah kesempatan. Sehari saja kebersamaanku dengannya tapi seperti semusim cinta yang bernuansa. Kebersamaan dalam putaran roda waktu yang terus berjalan hingga menghentikan semuanya, menghentikan kebersamaanku dengannya. Sayang langkahku terbatas saat itu hingga tak sanggup kuantar langkahnya sampai ke peraduan. Jabat tangan pun akhirnya menjadi penanda akhir cerita kita. Tatapan yang sayu mengiringi langkahku dan langkahnya menjauhi titik yang sebelumnya kita pijak bersama. Ini adalah sebuah kenangan indah yang mungkin akan sulit tergantikan.

Selvi, sebuah nama yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang ditelingaku. Wajah putihnya seperti cahaya rembulan yang menerangi setiap malam. senyum manisnya seperti lukisan yang membuat mata tak mampu untuk terpejam.  Tutur katanya yang lembut seperti alunan dawai yang menyulap suasana seperti pada padang panjang yang dibalut orkestra. Rambutnya yang panjang dan tergerai seperti mahkota yang menambah sempurna setiap bagian dari dirinya. Selvi, sebuah sketsa berharga tentang bagaimana intuisi berbicara dan bagaimana cinta tak berdaya.

Aku, Dia, dan Angkutan Kota

Sore saat langit mulai gelap karna akan ditinggal mentari pergi, aku selesai belajar di sekolah. Maka seperti anak-anak lain aku pun melangkah cepat untuk bergegas pulang. Maklum saja untuk sampai ke rumah aku harus menunggu angkutan kota. Saat sore seperti ini akan lama sekali untukku bisa mendapatkan angkot. Selain karna sore hari selalu penuh penumpang karna memang jam pulang beraktivitas. Angkot yang menuju rumahku sangat minim jumlahnya. 
Sekolahku berada di depan jalan raya. Jauh ke seberang sekitar 10 meter dari sekolahku, ada sebuah jembatan. Disitulah aku bersama teman-teman lain yang searah menunggu angkot. Sekitar 10 meter dari jembatan terdapat sebuah masjid. Masjid itulah yang menolong kami saat adzan berkumandang. Waktu terus berlalu, matahari juga mulai bergerak turun. Sesekali aku melihat jam di tanganku yang terus berputar cepat seperti berlomba. Aku masih juga belum mendapatkan angkot.

“Nis..” Sapa seseorang
“Kak Fandi” sahutku
“Bareng Yuk!” ajak Kak Fandi
“Nggak Kak. Makasih”
“Oh Ya sudah, aku duluan ya” timpal Kak Fandi selanjutnya

ABANG

Lagi lagi Bang Roshan, tak bosan dia membuat salah satu diantara kami menangis. Kemarin lusa Ane, kemarin Dian, dan sekarang Ina dan entah besok siapa lagi. ABang, begitu kami semua memanggilnya. Aku, Ina, Ane, Rima, Eka, dan Dian mengangkatnya sebagai kakak bersama. Hal ini bukan kebetulan memang tapi ada beberapa penyebab yang membuat semua harus seperti itu. Sebetulnya Bang Rhosan adalah teman sekelas kami. Namun karena usianya lebih tua dari kami maka dari itu kami memanggilnya ABang.
Ina adalah sosok yang paling pendiam diantara kami semua, namun Ina memiliki sensitivitas, untuk itu perasaanya mudah sekali terluka.
                “Kenapa In, di bentak lagi?” Tanyaku
Ina terus menitikan airmata, aku usap pundaknya dan seketika ia berhambur ke pelukanku. Selang berapa lama Ane, Eka, Rima, dan Dian menghampiri kami yang tengah ada di Bundaran taman kampus.
                “Bang Roshan lagi ya Ren” celetuk Rima
                 Aku hanya tersenyum lirih mengiyakan.
                 “Kenapa sih selalu orang itu yang menimbulkan masalah?” sahut eka ketus
                 “Heii, tidak boleh begitu. Bagaimanapun dia adalah ABang kita”. Kataku mengimBangi
                 “ABang macam apa yang selalu membuat adenya menangis? Sambung Eka
                 “Iya aku setuju tuh. Lagian menurut silsilah dia itu bukan ABang beneran kita kali” sahut Rima menimpali.

                 “Iya bisanya menasehati, seperti dia paling benar diantara kita, dan kita selalu salah”. Tutur Ane menambahkan.
                 “Iya aku juga masih sebel sama dia, masa aku gak boleh sedih karna pacarku gak ingat ulang tahunku, masa dia bilang itu masalah sepele. Bukan menghibur malah membuat perasaanku semakin sakit dan kecewa “Sahut Dian.
                 “Apalagi sama aku dia lebih parah. Masa dia melarang aku pergi ke puncak malam-malam, padahal terserah aku dong mau main kemana dan sama siapa. Mamaku aja gak pernah melarang-larang aku kok”. Tambah Rima
                 “Udah In gak usah sedih. Ada kita disini”. Sahut Eka.
                 “Sekarang udah aja, gak ada istilah ABang untuk Roshan. Lagian apa untungnya coba buat kita. Gak ada kan?. Tanpa dia juga kita biasa-biasa saja gak ada pengaruh apa apa. Kita tetap bisa menjaga diri” Tutur Ane
                “Ya aku setuju Ne, sudah waktunya kita semua bebas dari yang namanya Roshan itu”. Timpal Rima.
                 “Kok kalian bisa bicara seperti itu”. Kataku pendek.
                “Ren, apa untungnya sih kita angkat dia sebagai ABang kita. Cuma bikin repot aja kan. Hanya bikin masalah-masalah baru”. Balas Ane.
                 Lalu seketika semua teman-teman menyetujui. Ini seperti sebuah deklarasi. Namun aku masih sedikit bingung. Aku tidak begitu yakin ini adalah keputusan yang baik. Tapi ya sudah aku hanya bisa mengiyakan dan mengikuti apa yang diinginkan teman-teman.

                                                                                            ***

                 Sehari setelah deklarasi itu, Semua berubah 180 derajat. Kami yang biasanya menyalami Roshan saat masuk kelas kini tidak lagi. Teman-teman sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan Roshan. Roshan mungkin tidak menyadari perubahan teman-teman. Mungkin Roshan pikir kami hanya marah biasa saja kepada dia seperti yang biasa kami lakukan kemarin-kemarin. Padahal kali ini semua berbeda. Ini adalah akhir.
                 Lama lama Roshan menyadari sebuah keganjilan. Akhirnya dia berusaha mencari-cari dan berupaya untuk mendekati kami. Namun gagal. Dia sudah berusaha mendekati kami dengan mengajak nonton bareng, belajar bersama, sampai makan bareng. Namun sayang hal itu tidak bisa mematahkan keyakinan kami untuk memutuskan hubungan dengan Roshan.
                 Sampai akhirnya ketika di Kantin kami sedang makan dia menghampiri kami. Dengan gaya sok akrabnya dia menghampiri kami.
                 “Hei.. makan kok gak ngajak-ngajak”. Cetus Roshan.
                 Tak ada teman-teman yang menanggapi. Tapi dia tidak berputus asa. Dia coba mengganggu kami dengan ikut memakan makanan yang sedang dimakan oleh Eka. Kontan Eka marah. Ia melempar makanannya ke arah Roshan. Kami semua tersentak. Begitupun Roshan ia begitu kaget. Sepertinya ia tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan seperti itu. Kemeja Roshan kotor terkena tumpahan makanan yang dilempar oleh Eka.
                 “Kalian kenapa? Aku punya salah apa?”
                   Begitulah Roshan selalu merasa tidak mempunyai salah. Padahal bila dihitung-hitung kesalahannya sudah lebih dari seratus daftar.
                 Eka berdiri dan bergegas ke kasir untuk membayar makanan. Kami juga turut berdiri dan meninggalkan Roshan di meja makan. Roshan hanya bisa menatap kami dengan tatapan sendu. Terus terang saja aku tidak sampai hati berbuat seperti ini.

                                                                                            ***

                 Setelah kejadian di kantin itu. Roshan sudah mengerti apa yang kami inginkan. Untuk itu dia tidak pernah mengganggu kami lagi. Tidak pernah menyapa kami di kelas, tidak pernah mengajak makan bersama di kantin apalagi mengajak nonton bareng. Komunikasi kami mati total. Semua teman-teman senang dengan hal ini. Mereka seperti sudah mendapatkan kebebasan yang selama ini mereka mimpikan.
                Kini tak ada lagi yang menangis. Kami semua sudah menemukan kebebasan. Ane tak lagi kesal karena selalu mendapat nasihat, Dian tak lagi sakit hati karena masalah cintanya dianggap sepele, dan Rima bebas mau kemana saja dan dengan siapa saja tanpa ada yang melarang. Begitupun Ina, Eka, dan juga aku merasakan hal yang sama yaitu sebuah kebebasan.
                Akhir pekan ini kami harus menyelesaikan proposal program. Proposal ini dibuat untuk mengajukan kerjasama pada sebuah perusahaan. Kami akan mengadakan studi praktek ke sebuah prusahaan. Namun kami kebingungan. Selain tidak ada laptop yang bisa digunakan. Teman-teman ternyata memiliki acara masing-masing.
                “Ya udah Eka, kamu boleh pulang. Tapi kita pinjem laptopnya ya untuk ngerjain proposal ini” sahutku.
                “Ih gak bisa Ren. Aku mau ngerjain tugas”. Balas Eka
                “Trus gimana dong, laptop punya Ina rusak. Banyak virusnya. Laptopku kan batrenya dah soak” kataku lagi
                “Ya sudah sih. Kalian ngerjainnya di warnet aja”
                “Ya kan kalau di warnet kita harus bayar. Kalau ngetiknya di laptop kan nanti di warnet tinggal ngeprint aja jadi lebih murah”
                “Mmhh..  coba disini ada Bang Roshan ya. Jadi ada yang bantuin kita” kataku spontan.
                “Plis deh Ren. Jangan sebut-sebut lagi nama itu”. Sentak Eka.
                “Iya ni Rena. Kita kan sudah sepakat untuk menghapus nama itu dari hidup kita”. Timpal Ane.
                Lalu suasana menjadi hening, aku, Ina, Ane bingung mencari solusi. Eka seperti sedang kesal dengan sesutu, mungkin kesal karna aku menyebut nama Roshan. Sementara Dian dan Rima asyik ber-SMS-an dengan pacarnya masing masing.
                “Eh teman-teman aku pulang duluan ya. Pacarku dah di depan lagian rumahku kan jauh. Jadi maaf ya gak bisa bantu kalian”. Cetus Dian.
                “Aku juga ya, aku ada acara sama teman-temanku di puncak. Maaf ya gak bisa bantu juga”. Sahut Rima menimpali.
                Dian dan Rima pun beranjak. Padahal kami belum mengiyakan. Disusul dengan Eka yang pergi meninggalkan kami dengan wajah ketus. Sepertinya dia tengah memiliki masalah.
                Ya sudah akhirnya mau tidak mau kami mengerjakan pekerjaan ini di warnet. Mungkin akan menguras banyak biaya. Tapi ya sudahlah tidak ada jalan lain.

                                                                                            ***
                Malam tiba, sekitar pukul 9 malam. Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat dari nomor Rima masuk ke ponselku. Lalu aku membuka pesan singkat tersebut.
               “Teman-teman tolongin aku, aku lagi di kantor Polisi sekarang”
                Aku pun segera menelpon Rima untuk mengetahui secara detil bagaimana ia berada di kantor polisi. Pada menit-menit berikutnya aku menghubungi teman-teman yang lain untuk bersama-sama menemui Rima di kantor Polisi. Rupanya Rima terkena razia saat dilakukan sidak disebuah vila di kawasan Puncak Bogor. Memang akhir-akhir ini sedang dilakukan razia besar-besaran bagi pengguna narkoba. Meskipun begitu aku yakin Rima tidak mungkin menggunakan Narkoba.
                Aku dan teman-teman yang lain kemudian berangkat ke kantor polisi untuk menyusul Rima. Kasihan dia. Dia sendirian disana. Sementara teman yang membawanya ke Puncak kabur saat penggeledahan. Tak berapa lama kami sampai di kantor polisi.
                Sesampai di kantor polisi kami mendapati Rima tengah menangis di sebuah Bangku yang terletak di depan pintu kantor polisi. Kami lalu mendekati dan memeluknya erat-erat. Dia menangis tak kuasa. Kami merasakan kesedihan yang mendalam.
                “Ayo Rim, kita pulang” kataku
                “Tunggu sebentar, aku sedang menunggu seseorang di dalam”
                “Siapa Rim”
                “Dia yang menolongku”
Lalu sesosok pria yang tak asing keluar dari pintu. Ia berjalan pelan. Sempat menengok ke arah kami sejenak lalu meneruskan langkahnya.
                “Bang......” cetus kami sepontan.
Lalu sosok pria yang tak lain adalah Bang Roshan itu membalikkan badan dan menatap ke arah kami.
                “Kalian cepat pulang, malam sudah larut” Sahut Bang Roshan.
                Bang Roshan kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkah kakinya.
                Malam ini Bang Roshan sudah membuka mata kami semua tentang arti keluarga. Memang tak ada ikatan darah. Tapi ikatan batin kami kuat. Entah bagimana, Bang Roshan malam ini sudah menyelamatkan Rima, setidaknya Rima bisa pulang karena Bang Roshan sudah menjadikan dirinya sebagai jaminan. Ternyata selama ini Bang Roshan tidak menutup matanya. Hanya kami yang pura-pura buta soal ini.

                                                                                                ***

                   Hari-hari berikutnya kami menyadari dengan sangat soal kekeliruan ini. Setelah kejadian malam itu ternyata Bang Roshan tidak serta merta bersikap akrab terhadap kami. Ia masih mendiamkan kami. Tak menyapa, mengajak makan bersama di kantin, atau belajar bareng. Mungkin Bang Roshan masih memegang kata-kata kami. Kata-kata kami yang tidak ingin lagi diganggu oleh kehadirannya.
                    Soal ini kami harus berusaha. Bagaimanapun kami menyadari apa yang selama ini kami lakukan itu adalah kekeliruan. Penilaian kami soal daftar kesalahan Bang Roshan tidak kami imBangi dengan kebaikan yang pernah dibuatnya. Maka kami menyusun sebuah rencana untuk membuka komunikasi kembali dengan Bang Roshan. Beruntung, kami dibantu oleh Johan dan Dedi. Johan dan Dedi adalah sahabat baik Bang Roshan. Dengan memanfaatkan kelemahan Bang Roshan (pelupa Red) kami menyusun apik rencana ini.
                     Suatu siang di kantin kampus kala Bang Roshan tengah makan siang, kami semua menghampiri meja tempat Bang Roshan makan. Bang Roshan tengah melahap empe empe kegemarannya. Kami lalu duduk tanpa sepatah kata. Bang Roshan menatap kami dengan segumpal empe empe yang masih dikunyah dimulutnya. Ia lalu mengangkat tasnya dan membawa makanannya ke meja yang lain. Kami semua tidak mencegahnya untuk pindah tempat. Beberapa menit kemudian Bang Roshan tampak selesai makan. Ia membereskan tasnya dan meraba kantong celananya untuk mengambil dompet. Ada sesuatu hal yang ganjil karena ternyata dompet Bang Roshan tidak ada di saku celananya. Ia mulai mencari-cari di semua titik baju dan celananya namun dompetnya masih tidak ditemukan. Begitupun di dalam tasnya, ia mencari-cari tapi tidak menemukan. Ia mulai panik, ia membayangkan akan mendapat bom suara dari pemilik kantin yang terkenal galak itu. Kamu semua hanya tersenyum-senyum kecil menahan tawa.
                       Lalu perlahan ia menengok ke arah kami dengan wajah memerah. Kami pura-pura tidak melihatnya. Ia tampak ragu-ragu namun akhirnya Bang Roshan melangkah pelan-pelan, melangkah ke arah meja kami.
                      “Mmhh... dompetku hilang, ponselku juga hilang. Ren aku bisa pinjam uang dulu tidak buat bayar makan, nanti besok aku ganti” Sahut Bang Roshan.
                       Aku diam saja ia pura-pura tak peduli.
                       “Na.. aku bisa pinjam uang kamu”
                       Ina juga diam saja. Sungguh kami semua tidak tega melakukan ini. Ingin rasanya tertawa lepas untuk situasi konyol ini.
                       “Ine, Eka, Dian, Rima, kalian bisa pinjamkan aku uang”
                       Kami masih diam. Lalu......
                       “Iya Abaaangggg” sahut kami semua disambung dengan tawa yang sangat lebar.
                       “Hahahahahaha” Tawa kami.
                       “kalian menertawakan apa. Memang ada yang lucu” sahut Bang Roshan
                       “Nggak. Aya ABang duduk disini. Makan lagi sama kami” cetusku
                       Bang Roshanpun duduk, lalu sesuai rekomendasi kami ia memesan kembali makanan yaitu empe empe kegemarannya. Ia memang tampak masih lapar. Lalu keluarga kami akhirnya bersatu kembali dalam tawa bahagia. Untuk yang satu ini kami harus berterima kasih pada Johan dan Dedi yang telah berhasil menyembunyikan Dompet dan Ponsel Bang Roshan. Suatu saat kami akan cerita soal kekonyolan ini sama Bang Roshan, tapi tidak dalam waktu dekat. Takut dia marah. Hihi...