Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Tuesday, 1 December 2015

Analisis Kesalahan dalam Berbahasa Indonesia


Kesalahan adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku (atau norma terpilih) dari performansi bahasa orang dewasa (Dulay [et all], 1982 : 277).
Menganalisis kesalahan berbahasa mengandung dua maksud utama, yaitu:
1)     untuk memperolah data yang dapat dipergunakan untuk membuat atau menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai hakikat proses
belajar bahasa;
2)        untuk memberikan indikasi atau petunjuk kepada para guru dan para pengembang kurikulum, bagian mana dari bahasa sasaran yang paling sukar diproduksi oleh para pelajar secara baik dan benar, serta tipe kesalahan mana yang paling menyukarkan atau mengurangi kemampuan pelajar untuk berkomunikasi secara efektif (Dulay[et al], 1982 : 138).

Mengetahui kesalahan berbahasa mengandung beberapa keuntungan, antara lain:
1)            untuk mengetahui sebab-musabab kesalahan itu;
2)            untuk mengetahui latar belakang kesalahan tersebut;
3)            untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh para pelajar;
4)            untuk mencegah atau menghindari kesalahan yang sejenis pada waktu yang akan datang, agar para pelajar dapat menggunakan bahasa dengan baik dan benar;

Ada pakar yang membedakan kesalahan berbahasa atas dua jenis yaitu:
1)            kesalahan yang disebabkan oleh faktor-faktor kesalahan, keletihan, dan kurangnya perhatian, yang oleh Chomsky (1965) disebut faktor performasi, kesalahan performansi ini yang merupakan kesalahan penampilan, dalam beberapa kepustakaan disebut “mistakes”;
2)            kesalahan yang diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai kaidah-kaidah bahasa, yang disebut oleh Chomsky (1965) sebagai faktor kompetensi, merupakan penyimpangan-penyimpangan sistematis yang disebabkan oleh pengetahuan pelajar yang sedang berkembang mengenai sistem B2 (atau bahasa kedua) disebut “errors” (Corder, 1967)

Ada pula pakar yang membuat kategorisasi kesalahan berbahasa seperti berikut ini:
1)            Inference-like Goofs:kesalahan yang mencerminkan atau merefleksikan struktur bahasa ibu atau bahasa asli (native language), dan yang tidak terdapat pada data pemerolehan bahasa pertama(PB1) yang berasal dari bahasa sasaran.
2)            L1 Developmental goofs: kesalahan yang tidak mencerminkan atau merefleksikan struktur bahasa ibu, tetapi terdapat pada data PB1 bahasa sasaran.
3)            Ambiguous goofs; kesalahan yang dapat dikategorikan sebagai inference-like Goofs maupun sebagai L1 developmental Goofs.
4)            Unique Goofs: kesalahan yang tidak merefleksikan bahasa pertama (B1) dan juga tidak terdapat pada data PB1 bahasa sasaran.  

2.3.1.   Taksonomi Kategori Linguistik
Taksonomi-taksonomi kategori linguistik mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen linguistik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan, ataupun berdasarkan kedua-duanya. Komponen-komponen bahasa mencakup fonologi (ucapan), sintaksis dan morfologi (tatabahasa; gramatikal), semantik dan leksikon (makna dan kosakata), dan wacana.
“kesalahan-kesalahan dikategorikan sebagai suatu sarana pembantu dalam menyajikan data dan juga buat menciptakan suatu dasar bagi spekulasi ekstensial mengenai sumber-sumber bagi kesalahan tersebut. Dengan alasan ini kesalahan-kesalahan itu dikategorisasikan secara tradisional ke dalam kesalahan-kesalahan dalam morfologi, sintaksis, dan kosakata... ketiga kategori utama ini selanjutnya dibagi lagi atas bagian-bagaian ujaran atau bagiann-bagaian kalimat yang berbagai ragam...” (Politzer & Ramirez, 1973 : 41)

2.3.2.   Taksonomi Siasat Permukaan
Taksonomi siasat permukaan (atau surface strategy taxonomy) menyoroti bagaimana cara-caranya struktur-struktur permukaan berubah.
Kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam taksonomi siasat permukaan ini adalah:
1)     penghilangan (ommision)
2)     penambahan (addition)
3)     salah formasi (misformation)
4)     salah susun (misodering)

2.3.3.   Taksonomi Komparatif
Klasifikasi kesalahan dalam taksonomi komparatif (comparative taxonomy ) didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan-kesalahan B2 dan tipe-tipe konstruksi tertentu lainnya. Berdasarkan perbandingan tersebut maka dalam taksonomi komparatif dapat dibedakan:

1)     kesalahan perkembangan (development errors )
Kesalahan perkembangan ( development errors ) adalah kesalahan-kesalahan yang sama dengan yang dibuat oleh anak-anak yang belajar bahasa sasaran sebagai B1 mereka.

2)     kesalahan antarbahasa ( interlingual errors )
Kesalahan antarbahasa atau kesalahan interlingual sebagai kesalahan yang semataa-mata mengacu kepada kesalahan B2 yang mencerminkan struktur bahasa asli atau bahasa ibu, tanpa menghiraukan proses-proses internal atau kondisi-kondisi eksternal yang menimbulkannya. Kesalahan antar bahasa merupakan kesalahan yang sama dalam struktur bagi kalimat atau frasa yang berekuivalen secara semantik dalam bahasa ibu sang pelajar.
3)     kesalahan taksa
Kesalahan taksa (ambiguous errors) adalah kesalahan yang dapat diklasifikasikan sebagai kesalahan perkembangan atau pun kesalahan antarbahasa.

4)     kesalahan lainnya ( other errors )
Selama kesalahan itu tidak dibuat oleh anak-anak dalam perkembangan B1 maka kesalahan itu memang dan harus unik bagi para pelajar B2 dan selanjutnya, selagi kesalahan itu bukan kesalahan antarbahasa, maka setidak-tidaknya beberapa diantaranya harus merupakan refleksi unik atau pencerminan khas dari konstruktif kreatif.

2.3.4.   Taksonomi Efek Komunikatif
Taksonomi efek komunikatif memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dari perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca.
Berdasarkan terganggu atau tidaknya komunikasi karena kesalahan-kesalahan yang ada, maka dapatlah dibedakan dua jenis kesalahan, yaitu.
1)     Kesalahan global atau global errors
kesalahan yang mempengaruhi keseluruhan organisasi kalimat sehingga benar-benar mengganggu kominikasi.

2)     Kesalahan lojkan atau local errors
Kesalahan yang mempengaruhi sebuah unsur dalam kalimat yang biasanya tidak mengganggu komunikasi secara signifikan.

2.3.5.   Analisis Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa merupakan suatu “proses”. Sebagai suatu proses maka ada prosedur yang harus dituruti selaku pedoman kerja. Prosedur ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1)     memilih korpus bahasa
2)     mengenali kesalahan dalam korpus
3)     mengklasifikasikan kesalahan
4)     menjelaskan kesalahan
5)     mengevaluasi kesalahan
“Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur yang digunakan oleh para peneliti dan para guru, yang mencakup pengumpulan sampel bahasa pelajar, pengenalan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam sampel tersebut, pendeskripsian kesalahan-kesalahan itu, pengklasifikasiannya berdasarkan sebab-sebabnya yang telah dihipotesiskan, serta pengevaluasian keseriusannya” (Ellis, 1987 : 296; Ellis, 1984 : 10).

2.3.6.   Koreksi Kesalahan Bahasa Lisan
Johansson (1973) berpendapat bahwa keterpahaman dan gangguan yang hendaknya mendapat prioritas pertama sebagai kriteria penting yang harus tetapkan dalam memutuskan kesalahan mana yang harus dikoreksi.

A.      Koreksi kesalahan bahasa lisan
Walz (1982) mengklasifikasikan berbagai prosedur KK ke dalam tiga kategori utama, yaitu:
1)     koreksi diri sendiri dengan bantuan guru
2)     koreksi sesama teman
3)     koreksi guru

B.      Koreksi kesalahan bahasa tulis
Dalam kegiatan mengoreksi atau memperbaiki kesalahan bahasa tulis para pelajar, sang guru dapat menggunakan berbagai teknik ; yang terpenting atau yang biasa dimanfaatkan adalah;
1)     teknik koreksi langsung  (derect correctiaon theniques)
2)     teknik koreksi tidak langsung (inderect correctiaon theniques)
2.3.7.   Sebuah Kesalahan ABK Indonesia
Berdasarkan teori-teori yang telah dibicarakan itu kita ingin mengusulkan sebuah model Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia (AKBI). Taksonomi kategori linguistik dipergunakan sebagai dasar. Unsur-unsur yang termasuk ke dalam kategori linguistik itu adalah:

A.      fonologi, yang mencakup ucapan bagi bahasa lisan, dan ejaan bagi bahasa tulis;
1)     kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna.
2)     kesalahan ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca.

B.      morfologi, yang mencakup prefiks, infiks, sufiks, konfiks, simulfiks, perulangan kata. Kesalahan morfologi adalah kesalahan memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks;; salah menggunakan kata ulang; salah menyusun kata majemuk, dan saah memilih bentuk kata.;

C.      sintaksis, yang mencakup frasa, klausa, kalimat. Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan stuktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel.;


D.     leksikon atau pilihan kata. Kesalahan leksikon adalah kesalahan memakai kata yang tidak atau kurang tepat.

Tuesday, 10 November 2015

Surat Menyurat : Cara Pembuatan Kepala Surat yang Baik

Dalam kepala surat yang lengkap tercantum (biasanya sudah tercetak)
a.       Nama instansi atau badan;
b.      Alamat lengkap;
c.       Nomor telepon;
d.      Nomor kotak pos;
e.       Alamat kawat; dan
f.       Lambing instansi atau logo.

Bahkan, jika instansi atau badan tersebut bergerak dalam bidang bisnis atau dunia usaha, selain bagian-bagian di atas, dalam kepala suratnya tercantum juga
g.      Alamat kantor cabang;
h.      Nama bank; dan
i.        Jenis usaha.

Kepala surat berguna untuk memberikan informasi kepada penerima surat tentang nama, alamat, serta keterangan lain yang berkaitan dengan instansi atau badan pengirim surat.
Cara pencetakan kepala surat adalah sebagai berikut

Pertama-tama, cetaklah nama instansi atau nama badan yang bersangkutan dengan huruf kapital semua pada bagian atas kertas dengan sistem simestris atau system lurus. Lambang/logo departemen, lambang universitas, atau lambang instansi yang lain dicantumkan di sebelah kiri. Nama departemen atau nama instansi pusat dicetak pada garis pertama, sedangakan nama unit organisasi dicetak pada garis kedua, dan nama subunit organisasi dicetak pada baris ketiga. Misalnya, direktorat jenderal, inspektorat jenderal, badan penelitian dan pengembangan, kantor wilayah, universitas dicantumkan dibawah DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN.

Alamat instansi/organisasi dituliskan lengkap, termasuk nomor telepon, nomor teleks, dan kode pos. Alamat instansi/organisasi dituliskan dengan huruf-huruf awal kata kapital, kecuali kata tugas atau dengan huruf kapital semua, tetapi ukurannya lebih kecil daripada huruf-huruf untuk nama instansi. Unsur-unsur alamat dipisahkan dengan tanda koma, bukan dengan tanda hubung. Kata jalan ditulis lengkap Jalan, tidak Jl. atau Jln. Jika kantor tersebut memiliki nomor telepon, dituliskan kata Telepon, bukan Tilpon, dan bukan pula singakata Telp. atau Tilp. Kemudian, nomor telepon tidak perlu diberi titik karena bukan merupakan suatu jumlah. (Telepon 4896558, bukan Telepon 4.896.558). tulisankan kata Kotak Pos jika kantor tersebut memilikinya, bukan PO Box.


Penulisan kepala surat seperti dibawah ini masih perlu diperbaiki.


Dalam penulisan alamat instansi pada contoh ini dilihat penulisan P.T. Jl., P.O, Box, Telp., dan telex, yang belum sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.
Badan bahasa menganjurkan penulisan berikut :
Singkatan P.T. dituliskan tanpa titik (seharusnya PT).
Kata Jalan sebaiknya dituliskan lengkap; P.O. Box harus diganti dengan Kotak Pos; telepon harus ditulis lengkap, Telepon; telex harus dituliskan Teleks. Disamping itu, pembatas unsur-unsur alamat adalah tanda koma ( , ) dan bukan tanda hubung ( - ). Sebaliknya kepala surat tersebut dicetak seperti berikut.

Kepala surat ini digunakan sistem lurus.

Perhatikan penulisan kepala surat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di bawah ini.




Kepala surat ini menggunakan sistem simetris.

Wednesday, 4 November 2015

Surat Menyurat : Jenis-Jenis Surat


Surat merupakan sarana komunikasi tertulis. Surat dipandang sebagai alat komunikasi tulis yang paling efesien, efektif, ekonomis, dan praktis dibandingkan dengan komunikasi lisan. Apa yang dikomunikasikan melalui surat akan sampai kepada alamat yang dituju sesuai dengan sumber aslinya. Peranan surat lebih penting lagi, terutama dalam surat resmi, seperti surat yang dikeluarkan oleh organisasi/lembaga, surat perjanjian jual beli, surat sewa-menyewa rumah, surat dagang, dan surat resmi lainnya. Sifat resmi sebuah surat bukan sala dilihat dari sistematika, penggunaan bahasa, dan isinya, melainkan juga mempunyai kekuatan hukum sebagai bukti tertulis. Surat-surat dalam arsip lama dapat dipakai sebagai bahan penelitian untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan pada masa lalu. Dalam hal ini, surat berfungsi sebagar alat bukti historis. Surat-surat yang telah diarsipkan itu dipakai sebagai alat pengingat.
Dengan demikian surat memiliki peranan penting dalam hal terjalinnya komunikasi yang efektif. Keefektifan ini juga berkaitan erat dengan tata cara penulisan surat. Penulisan surat yang benar tentu akan membuat komunikasi terjalin dengan efektif. Sebaliknya cara penulisan surat yang salah akan membuat komunikasi berjalan tidak efektif.

Berdasarkan isinya, surat dapat dibedakan atas tiga jenis, yakni sebagai berikut:
  1. Surat pribadi adalah surat yang berisi masalah pribadi yang ditujukan kepada keluarga, teman, atau kenalan. Karena sifatnya yang akrab dan santai, surat pribadi biasanya menggunakan bahasa ragam santai atau tidak resmi. Misalnya, surat untuk keluarga, orangtua, dan sahabat.
  2. Surat dinas atau surat resmi adalah surat yang berisi masalah kedinasan atau pemerintahan. Surat dinas atau resmi hanya dibuat oleh instansi pemerintah dan dapat dikirimkan kepada semua pihak yang memiliki hubungan dengan instansi tersebut. Misalnya, surat undangan rapat dan surat pemberitahuan.
Surat niaga atau surat dagang adalah surat yang berisi masalah perniagaan atau perdagangan. Misalnya, surat penawaran, surat tagihan, surat permohonan lelang, surat perjanjian jual beli, dan periklanan. 

Monday, 28 September 2015

Penulisan Feature : Cara Menulis Feature


Harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis Feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi kudu benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Nah, gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis Feature kudu pinter betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, nggak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah Feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Saya modifikasi dari perkembangan yang saya lihat di berbagai media massa dan sedikit teori umum tentang itu. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead bisa disebutkan sebagai berikut:

Lead Ringkasan:
Lead ini hampir mirip dengan berita biasa, bedanya, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis Feature menulis lead gaya ini karena gampang. Misal: Usia tua bukan halangan bagi Bu Maryam untuk tetap bertahan jualan gado-gado di kantin sekolah kita. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa sekolah seperti yang lain. Dan seterusnya…. Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah penjual makanan bernama Bu Maryam yang sudah tua.
Lead Bercerita:
Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Misal: Anak berseragam putih-abu itu menenteng balok kayu. Sorot matanya tajam bagai elang mengincar mangsanya. Sejurus kemudian ia memberi komando untuk menyerang lawannya dari sekolah lain. Tawuran pun tak bisa dihindari lagi. Warga sekitar kejadian, yang kebanyakan ibu-ibu ketakutan menyaksikan drama itu… Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal Feature itu bercerita tentang maraknya tawuran pelajar yang selama ini selalu bikin resah.
Lead Deskriptif:
Lead ini menceritakan gambaran kepada pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Penulis yang hendak menulis profil seseorang, biasanya seneng banget bikin lead kayak begini. Misal: Sesekali wanita tua itu mengelap keringatnya yang mengucur dengan ujung kebayanya, ia terus mengulek bumbu pecel. Sementara anak-anak sekolah sibuk berebutan membeli gorengan di kantin sekolah itu. Meski banyak anak yang suka curang dengan tidak membayar dagangannya, Bu Maryam tak pernah ambil pusing, “Mungkin dia tidak punya uang”, katanya suatu saat….. dst….Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Bu Maryam yang bak pelangi.
Lead Pertanyaan:
Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal: Untuk apa mereka berjihad ke Irak? Memang ada yang sinis dengan dibukanya pendaftaran relawan untuk berjihad ke Irak, menyusul invasi AS dan sekutunya ke negeri seribu satu malam itu 20 Maret lalu. Bahkan pemerintah pun menanggapi dingin rencana tersebut bahkan ada yang pejabat yang mengatakan “konyol” terhadap rencana tersebut…dst….Pembaca kemudian disuguhi Feature tentang rencana relawan yang akan berjihad ke Irak.
Lead Nyentrik:
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal:
Hancurkan Amerika!
Tangkap Bush!
Bush Teroris!
Tegakkan Khilafah
Hancurkan demokrasi!
Teriakan itu bersahut-sahutan dari ribuan pendemo di depan Kedubes AS dalam unjuk rasa menentang invasi AS dan sekutunya ke Irak …. dst…. Pembaca akan disuguhi Feature tentang tuntutan para pengunjuk rasa tersebut.
Lead Menuding:
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara” (bisa juga Kamu). Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Misal: Kamu jangan bangga dulu punya HP oke. Meski kemana-mana nenteng ponsel yang fiturnya seabrek, boleh jadi kamu buta tentang teknologi telgam ini dst….


Lead Kutipan:
Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise. Misal: “Saya akan terus berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Lebih baik mati daripada menanggung derita karena dijajah Israel,” kata seorang pemuda Palestina dengan lantangnya saat membakar bendera Israel di Tepi Barat dalam sebuah demonstrasi yang digelar ratusan pejuang Palestina itu… dan seterusnya. Pembaca kemudian digiring pada kisah perjuangan rakyat Palestina.
Lead Gabungan:
Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi. Misal: “Saya tak pernah merasa gentar menghadapi serbuan AS dan sekutunya” kata Saddam Husein dalam pidato yang berapi-api itu. Ia tetap tersenyum cerah dan melambai-lambaikan tangannya di hadapan ribuan rakyat Irak di sela-sela pidatonya itu…. Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan. Coba ya…
Setelah kita membuat lead, jangan lupa membuat isinya, yakni yang disebut dengan “Batang Tubuh”. Lead yang menarik, tentu harus didukung dengan batang tubuh yang menarik juga. Tapi yang jelas fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek (lihat tip ke-8, “Hindari Kalimat Raksasa”). Terus deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil) mutlak untuk pemanis sebuah Feature.
Kalau dalam berita, cukup ditulis begini: Bu Maryam penjual makanan yang sabar di kantin sekolah kita. Paling hanya dijelas kan sedikit soal Bu Maryam. Tapi dalam Feature, kita dituntut lebih banyak. Profil lengkap Bu Maryam diperlukan, agar orang bisa membayangkan. Tapi tak bisa dijejal seperti ini: Bu Maryam, penjual makanan di kantin sekolah kita, yang sudah tua dan menjanda, umurnya 50 tahun, anaknya 6, rumahnya di Tanah Abang, tetap sabar.
Kita harus memecah data-data itu. Misalnya, alenia pertama cukup ditulis: Bu Maryam, 50 tahun, penjual yang sabar. Lalu jelaskan tentang contoh kesabarannya. Bu Maryam yang sudah tua tak kenal lelah berjualan, untuk menghidupi keenam anaknya yang sebagian masih berusia remaja. Di bagian lain bisa ditulis: “Demi anak-anak, saya rela membanting tulang kerja keras” kata wanita yang ditinggal mati suaminya 10 tahun lalu dan kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Tanah Abang. Dan seterusnya.
Anekdot perlu juga untuk sebuah Feature. Tapi jangan mengada-ada. Jadi tidak menarik nantinya. Kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase. Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak. Misalnya, Bis itu masuk jurang dengan kedalaman 15 meter lebih 40 centi 8 melimeter…, apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 15 meter.
Beda dengan yang ini: Gol kemenangan Juventus dicetak Pavel Nedved pada menit ke 44, ini penting. Sebab tidak bisa disebut sekitar menit ke 45. Kenapa? Karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 41 beda jauh dengan menit ke 35. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik. Belum lagi menghitung waktu dalam arena balapan F1, seper sekian detik juga akan diperhitungkan.
 ‘kecanggihan’ lead dan batang tubuh tidak akan sempurna jika tidak ada ‘ending’ (penutup). Jika dalam berita malah tidak ada penutup. Untuk Feature paling tidak ada empat jenis penutup. Pertama, penutup “Ringkasan”. Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead. Kedua, penutup “Penyengat”. Jadi, membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Misalnya, menulis Feature tentang gembong pelaku curanmor yang berhasil ditangkap setelah melakukan perlawanan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas polisi sudah datang, dan sang penjahat itu pun sudah menghuni sel tahanan. Tapi, ending Feature adalah: Esok harinya, penjahat itu telah kabur kembali.
Ketiga, penutup “Klimak”. Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Keempat, penutup “Tanpa Penyelesaian”. Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan. Misalnya: Entah sampai kapan perang AS-Irak ini akan berakhir.